Dinamika AktualHighlight NewsKabar Kota Kita

Waspada, Puluhan Pelajar di eks Karesidenan Madiun Terkontaminasi Napza

Dutanusantarafm.com – Puluhan pelajar di eks Karesidenan Madiun, saat ini sudah terkontaminasi obat-obatan terlarang atau napza. Sebagian besar mereka merupakan anak usia SMK, yang notabennya berasal dari keluarga kurang mampu.

Hal itu disampaikan Direktur Yayasan Bambu Nusantara, Titik Sugianti dalam kegiatan edukasi serta sosialisasi tentang bahaya human immunodeficiency virus (HIV) dan narkotika.
‘’Kami mencatat adaa 25 anak usia sekolah. Mereka berasal dari Kota dan Kabupaten Madiun, dan juga daerah sekitar,’’ katanya Jumat (9/09/2022).

Titik menuturkan, para pelajar dampingannya itu masih masuk kategori pemula untuk konsumsi napza. Jenis yang dikonsumsi juga bervariatif, ada double L, triheks, serta obat-obat yang masuk daftar G. Dari mana asal obat-obatan itu, para pelajar ini ternyata sudah berjejaring dari luar kota. Hal itu tercatat dari adanya empat anak dampingan, yang berasal dari luar Madiun.

Sebagian besar pelajar dampingan Bambu Nusantara saat ini, merupakan pelajar kelas XI dan XII. Tidak hanya siswa, tetapi juga ada siswi. Rata-rata mereka baru coba-coba, karena diajak sesama teman sekolah.

‘’Paling banyak dari Caruban, dan disana sudah banyak pengedarnya. Sedangkan untuk Sebagian besar dampingan kami, hanya sebagai penyalahguna,’’ paparnya.

Terkait ciri-ciri visual penyalahguna napza, Titik menyampaikan biasanya para pelajar itu malas bersekolah. Kemudian, berwajah kusut karena malam biasanya mereka memilih tidak tidur. Sehingga, saat disekolah para pelajar yang sudah terkontaminasi obat-obatan itu lebih sering terlihat mengantuk.

‘’Saat malam, mungkin ada aktivitas lain. Jadi pagi hari terlihat tidak fresh. Kemudian, saat diajak kontak mata, anak tidak percaya diri dan lebih banyak mengalihkan kontak mata,’’ terangnya.

Jemput Bola ke Sekolah, Hingga Home Visit Orang Tua

Untuk menjangkau para pelajar yang sudah terdeteksi sebagai penyelahguna napza, Titik biasanya berusaha membongkar jaringan dengan strategi jemput bola. Biasanya, jika sudah mendapat satu dampingan tim akan melakukan asessmen ke sekolah siswa terkait. Selanjutnya, tim akan berkoordinasi dengan kepala sekolah maupun guru Bimbingan Konseling (BK).

‘’Biasanya dari satu anak itu, nanti mereka akan menunjukkan teman-teman penyalahguna yang lain,’’ imbuhnya.

Selain pendampingan rutin bagi para pelajar itu, tim juga akan melakukan kunjungan rumah atau home visit bagi orang tua siswa terkait. Hal itu perlu dilakukan, mengingat tidak jarang pula banyak masalah muncul dari ruang keluarga. Yang kemudian berdampak pada penyalahgunaan napza, sebagai pelarian para pelajar tersebut.

Dalam kegiatan home visit, tim akan memberikan edukasi bagaimana cara deteksi dini pada anak yang dicurigai telah melakukan penyalahguna napza.

Diantarnya, mendadak si anak tersebut meminta uang saku dengan jumlah lebih banyak dari hari biasa. Atau, tiba-tiba bersikap agresif saat orangtua tidak memberikan apa yang diminta si anak tersebut.

‘’Orang tua harus lebih tanggap, dengan hal-hal seperti itu. Coba ditanya dengan baik, untuk apa uang itu digunakan. Karena, sekolah saat ini sudah tidak berbiaya. Termasuk, sesekali orang tua boleh menggeledah isi tas anak. Karena, ternyata tidak hanya anak putra anak putri sekarang juga sudah terkontaminasi,’’ tegasnya. (Umi Duta)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close