GalerryHighlight NewsKabar Kota KitaSekitar Kita

Bikin Batu Bata. Mewarisi Profesi Pendahulu Berjuang Melawan Modernisasi, Bertahan Dimasa Pandemi

Dutanusantarafm-Usaha membuat batu bata merah adalah salah satu profesi yang banyak dijalankan karena mewarisi usaha orang tua, kakek atau para pendahulunya. Usaha seperti itu sampai sekarang masih banyak dijumpai di Kabupaten Ponorogo.

Usaha membuat batu bata merah bisa dijumpai antara lain di kelurahan kadipaten, patihan wetan, desa patihan kidul, ringinputih, dan banyak desa lainnya di Ponorogo. Usaha turun temurun ini bukan berarti tidak mengalami tantangan atau kendala.

Salah satu pembuat batu bata merah asal Desa Patihan Kidul Kecamatan Siman Cahyo mengungkapkan untuk memproduksi batu bata saat ini tidak seperti masa dahulu. Sekarang membutuhkan banyak.l modal untuk membuat batu bata. Misalnya modal untuk membeli tanah, membeli sekam, dan lainnya.

Pada masa sekarang ini seiring jaman yang semakin maju pengusaha batu bata juga harus bersaing dengan produk baru yang menggunakan teknologi modern. Misalnya muncul produk batako, dan belakangan ini produk baru bata ringan. “sekarang ini makin banyak sainganya mas dengan munculnya produk baru buatan pabrik seperti itu” keluhnya.

Dengan makin banyaknya produk baru itu maka sebagian konsumen mulai meninggalkan batu bata merah. Akibatnya pemasaran batu bata merah mulai menurun pada tiga tahunan terakhir. “Dulu adanya cuma batu bata merah, tetapi sekarang banyak pilihan.Tiinggal pembeli sukanya yang mana” ucapnya.

Karena saingan semakin banyak, maka tak pelak banyak warga yang meninggalkan profesi membuat batu bata merah. Keuntungan yang menipis akhirnya banyak yang mencari pekerjaan lain, ada juga yang memilih kembali mengolah sawahnya. ” Dulu ada 50 an orang disekitar sini yang membuat batu bata, sekarang tinggal 20 an orang saja” urainya.

Bukan hanya dampak modernisasi yang menjadikan usaha batu bata merah ini semakin sulit berkembang. Masa pandemi covid 19 membuat perekonomian juga melesu.

Melesunya perekonomian itu sebagai dampaknya antara lain belanja warga masyarakat menurun, termasuk belanja bahan bangunan seperti batu bata merah ini.

Kendala melesunya perekonomian dimasa pandemi selain berdampak menurunnya permintaan batu bata, juga dibarengi keterbatasan modal untuk usaha membuat batu bata. Hal itu juga disampaikan Slamet pembuat batu bata yang juga tinggal di Desa Patihan Kidul. “Modal kita pas-pasan, uang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari” ungkapnya.

Harga jual batu bata merah saat ini berkisar 750 ribu – 800 ribu rupiah perseribu buah. Keuntungan yang bisa diperoleh hanya berkisar 250 ribu rupiah perseribunya. Padahal proses membuat batu bata cukup panjang, mulai mengolah tanah, mencetak, mengeringkan, membakar, sampai akhirnya siap dijual ke konsumen.

Baik Cahyo maupun Slametpun berharap perekonomian akan segera membaik sehingga penjualan hasil produksinya tidak mengalami kendala. Harapan lain para pembuat batu bata ini mendapatkan bantuan modal guna mengembangkan usahanya. Merekapun tetap optimis batu bata merah seperti hasil produksinya tersebut tetap punya segmen konsumen sendiri. Batu bata merah tetap dibutuhkan untuk membangun apakah rumah, kantor, ruko, gudang dan lainnya.(de)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close