Dinamika AktualHighlight NewsKabar Kota Kita

Nggak Jaman Lagi, Jika Masih Mendiskriminasikan Pasien ODHA

Dutanusantarafm-Barangkali karena kurangnya edukasi dan pemahaman tentang HIV menjadikan orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) sering kali mendapatkan perlakuan diskriminatif di lingkunan masyarakat. Padahal sebenarnya penularan HIV tidaklah semudah yang dikira oleh banyak orang, lain halnya dengan penularan covid 19 yang begitu mudah dan cepat.

Pada momen hari Aids sedunia tanggal 1 Desember 2021, bisa dijadikan sarana untuk bercermin bahwa ternyata masih ada sebagian orang yang menganggap HIV menjadi momok menakutkan. Menurut Dr.Muthia Ulya dari Poli VCT RSUD Dr. Hardjono bahwa pasien ODHA kebanyakan adalah korban, mereka tidak tahau apa-apa, namun kenyataanya terinveksi HIV. Kasus seperti itu sering dijumpai ketika suami atau istri yang terinveksi HIV kemudian menularkan kepada pasangan dan anak.

“Padahal mereka sebelumnya tidak tahu jika diantaranya ada yang terinveksi HIV AIDS”ungkapnya.

Muthia menjelaskan penularan HIV sangat sulit dan sangat berbeda dengan covid 19. HIV menular melalui hubungan, sex, darah, melalui ASI, tidak bisa melalui udara. Karena itu menurutnya sangatlah tidak masuk akal jika penderita ODHA sampai dijauhi, atau didiskriminasi. Padahal mereka yang terinveksi HIV pada stadium pertama nyaris tanpa merasa gejala, dan apabila rutin mendapatkan pengobatan maka lambat laun kesehatan akan pulih.

Jika penderita ODHA dikucilkan,maka kondisi kesehatanya yang awalnya bagus akan bisa drop karena psikisnya menurun. Penderita HIV harus menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) secara rutin, namun untuk proses penyembuhanya memerlukan dukungan orang disekitarnya.

“pasien ODHA harus dimotivasi, disupport agar lekas sembuh, malah jangan dikucilkan atau diasingkan. Kasihan mereka” imbuhnya.

Muthia juga mengajak semua pihak untuk terus mengkampanyekan agar jangan mengucilkan atau mendiskriminasikan ODHA. Support dari anggota keluarga, orang terdekat sekitar adalah bagian kunci penyembuhan ODHA. Karena itu kepada pasien ia selalu menyarankan agar terbuka dan mau jujur saat memeriksakan diri ke poli VCT. Harus dipahami Poli VCT adalah tempat untuk konsultasi, koordinasi, support,motivasi, termasuk curhat. Karena itu selalu ditawarkan siapa dari anggota keluarga yang akan dipilih untuk mensupport pengobatannya.

Sementara itu sesuai data yang ada di Poli VCT RSUD Dr. Hardjono Ponorogo hampir 300 ODHA yang saat ini menjalani perawatan rutin. Diantara pasien tersebut sebagian kecil adalah menjalani rawat inap di rumah sakit. Pada bagian lain diketahuinya seseorang terjangkit HIV kebanyakan setelah dilakukan screening dari pasien ODHA yang sebelumnya dirawat di rumah sakit.(de/san).

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close